Penyebab hubungan keluarga tidak harmonis bisa bermacam-macam. Yang pasti, ketidakharmonisan akan berdampak buruk bagi anggota keluarga.Salah satunya, anak lebih senang bersama teman daripada orang tua, Jika dibiarkan berlarut-larut maka akan menimbulkan masalah yang lebih besar.

Selain itu, setiap anggota keluarga memiliki kesibukan yang berbeda-beda. Orang tua dan anak memiliki aktivitas masing-masing. Keterbatasan waktu untuk dihabiskan bersama sering memicu kesalahpahaman. Belum lagi jika ada perbedaan keinginan dan pendapat

Penyebab Hubungan Keluarga Tidak Harmonis

Konflik antar anggota keluarga dapat membuat keadaan semakin memburuk. Akibatnya, tidak betah di rumah dan lebih senang menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman. Setidaknya ada 3 hal yang menjadi penyebab hubungan keluarga tidak harmonis:

Bonding yang kurang kuat

Bonding atau  dikenal juga sebagai ikatan yang kuat antara anak dan orang tua dibangun sejak dalam masa kandungan. Sering mengajak komunikasi dan kasih sayang yang tulus dapat memperkuat bonding.

Banyak ibu yang menghabiskan waktu di rumah bersama anak, namun tetap saja bonding yang dibangun tidak maksimal. Membangun bonding bukan hanya sekedar mengurus dan membesarkan anak. Lebih dari itu, ikatan dibangun saat anak dan orang tua sering menghabiskan waktu yang berkualitas bersama.

Sayangnya, ibu rumah tangga sering kali memiliki segudang daftar pekerjaan. Belum lagi jika ibu memiliki anak lebih dari satu. Banyaknya hal yang di urus dalam satu waktu, bisa membuat ibu kurang fokus terhadap anak.

Karena sedang sibuk mengerjakan sesuatu, terkadang ibu membiarkan anaknya menangis lama, berbicara namun tidak dengan kontak mata, bahkan tidak sempat meluangkan waktu hanya sekadar main bersama. Kurangnya bonding dapatmemicu hubungan yang tidak harmonis  antar anggota keluarga .

Menguatkan bonding bisa dengan cara mengajak bicara meski masih dalam kandungan, memberikan ASI dan kontak kulit secara langsung, memijat bayi, menggendong bayi, bermain, membacakan buku, menatap mata saat berbicara, sering memeluk dan mencium anak serta selalu ada saat dibutuhkan.

Untuk anak yang sudah beranjak dewasa, seringlah ajak mengobrol. Tanyakan mengenai aktivitasnya; apakah harinya menyenangkan. Luangkan waktu untuk jalan-jalan atau sekadar makan makanan kesukaan bersama-sama.

 

Kurang Menghabiskan Waktu Bersama

Seiring bertambahnya usia, beberapa anak cenderung menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Terkadang anak lebih sering senang bermain bersama teman ketimbang orang tua. Meski begitu, ada pula anak yang hanya di rumah, tetapi hanya sibuk dengan diri sendiri. Hanya melakukan hal yang disukainya saja. Kondisi seperti ini membuat jarak antara anak dan orang tua. Jika dibiarkan akan semakin memburuk dari hari ke hari.

Saat anak tidak betah di rumah, pastilah ada sebabnya. Apakah suasana rumah membuat anak nyaman? Bagaimanapun kondisi rumah, pada umumnya anak akan merasa nyaman jika ada kehangatan di dalamnya. Keharmonisan antar anggota keluarga sangat menentukan apakah anak merasa nyaman di dalam rumah atau tidak.

Jika ada hal yang membuat tidak nyaman antar anggota keluarga, bicarakan secara baik-baik dan segera cari solusi. Bangun hubungan baik antar anggota keluarga dengan komunikasi yang baik, saling menghormati dan seringlah menghabiskan waktu bersamaJ.

Komunikasi cenderung hanya satu arah

Cara seseorang berkomunikasi sangat menentukan respon lawan bicara. Pola komunikasi yang kurang baik dapat menimbulkan reaksi yang kurang baik pula dari lawan bicara. Selain itu, memahami lawan bicara juga sangat penting, agar maksud yang ingin dibicarakan tersampaikan dengan baik.

Begitu pula komunikasi antar anggota keluarga. Agar tercipta hubungan yang harmonis, hindari komunikasi yang cenderung hanya satu arah. Seperti contoh: orang tua hanya meminta anak melakukan ini dan itu tanpa penjelasan dan bertanya mengenai perasaan anak.

Jika merasa orang tua tidak dapat memahami perasaannya, anak akan semakin menjauh dan tidak mau mendengarkan kata orang tua. Yang lebih parahnya lagi, jika orang tua tidak memahami hal ini. Saat anak tidak ingin mendengarkan, anak dicap sebagai pembangkang dan tidak menghormati orang tua. Sehingga tanpa disadari orang tua memberi pengaruh buruk pada anak, atau yang sering disebut toxic parent.

Dalam kondisi hati yang kurang baik, mendapat label negatif membuat anak semakin menjadi-jadi. Bentuk protes anak pun bisa beragam. Mulai dari mogok makan, mogok bicara, bahkan sampai keluar rumah dan tak mau pulang. Jika terjadi seperti itu, masalah akan semakin membesar. Pedahal jika ditelaah penyebabnya sederhana, yaitu pola komunikasi.

Untuk menghindari hal-hal negatif yang berkepanjangan, usahakan untuk selalu berkomunikasi dua arah. Sampaikan apa yang diinginkan orang tua, lalu tanya pendapat anak. Jika anak tidak setuju, cari solusi yang tidak memberatkan keduanya, lalu buat kesepakatan.

Ciri-Ciri Orang Tua Cerdas

 

Dengan menghargai  dan menjaga perasaan anak, ia pun akan belajar hal yang sama dari orang tuanya. Saat anggota keluarga saling mengerti dan saling menghormati, maka akan tercipta keharmonisan di dalamnya.

Rumah dan keluarga adalah tempat kembali dan tempat berbagi yang harus dijaga keutuhannya. Saat keluarga tidak harmonis, maka tidak ada kedamaian dalam setiap anggotanya. Untuk menciptakan kehidupan yang bahagia, semua berawal dari keluarga.

Perasaan positif, pendidikan, karakter  yang baik, kesehatan, bahkan karir seseorang akan sangat ditentukan oleh bagaimana peran keluarga padanya. Oleh karena itu, mari kita jaga keharmonisan keluarga agar semua bisa berbahagiaJ. Karena apapun masalahnya, pasti akan bisa diatasi jika pondasinya kuat. Pondasi yang kuat dibangun dari pribadi yang baik dan keluarga yang harmonis.