Sosok pahlawan memang dikenal sebagai orang yang berani untuk memperjuangkan kebaikan. Tak melulu harus menumpas kejahatan dengan kekuatan layaknya superhero, tetapi juga orang yang dapat berbagi apa yang ia miliki untuk kebaikan bersama. Entah itu dengan harta, kekuasaan, tenaga, pengetahuan atau bahkan dengan doa.

Dalam agama Islam, Nabi Muhamma SAW pernah bersabda, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.R. Bukhari). Bukan dengan perang  dan adu kekuatan, saat ini kita butuh sosok pahlawan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mampu memberi manfaat dan membawa perubahan pada kebaikan bagi lingkungannya. Saat ini, saya melihat sosok itu ada pada Bapak Bunyamin, seorang penyandang disabilitas dengan kemapuan tanpa batas.

Beliau merupakan warga asli Karangtuang, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Diusia senja dengan rambut yang sudah memutih, tidak menyurutkan semangat untuk terus menebar kebaikan. Secara fisik, beliau memang memiliki kekurangan. Tangan kanannya kaku dan tidak bisa digerakkan sejak balita setelah mengalami demam tinggi. Karena tinggal diperkampungan dan keterbatasan finansial, Bunyamin kecil tidak mendapat penangan medis. Hingga akhirnya sampai sekarang, beliau beraktifitas hanya menggunakan tangan kiri. Meski dibilang cacat fisik, beliau justru dihormati melebihi orang yang sempurna secara fisik.

Bapak Bunyamin adalah salah satu tokoh agama di kampungnya yang kerap menyampaikan taushiyah agama di berbagai kesempatan. Umumnya, penceramah selalu mendapat ucapan terima kasih dalam bentuk materi. Berbeda dengan Bapak Bunyamin, beliau tidak mau menerima amplop dari orang yang mengundangnya. Selain sering menyampaikan ceramah agama, beliau juga sering diminta untuk menjadi juru bicara diberbagai acara hingga ke kota lain di Jawa Tengah.

Bagi Bapak Bunyamin, menyeru kepada kebaikan adalah perintah Tuhannya. Ia ikhlas melakukan itu karna mengharap ridho-Nya. Tidak hanya sekedar bicara, beliau juga menyelaraskan antara ucapan dan perbuatannya dengan rutin shalat lima waktu di masjid, mengajar ngaji secara gratis, rutin berpuasa Senin & Kamis dari sejak remaja hingga sekarang serta rajin bershodaqoh.

Jika tak mau menerima amplop dari hasil panggilan ceramahnya, lantas dari mana beliau menghidupi keluarga? Disitulah ajaibnya kekuasaan Allah, meski hanya menggunakan satu tangan, beliau berhasil mengais rezeki dengan menjadi buruh tani bersama istri tercinta selama puluhan tahun. Selain bertani, beliau juga kerap menjadi kenek kuli bangunan. Dari situ, beliau mampu memberikan pendidikan yang layak kepada lima orang anaknya, berqurban rutin beberapa tahun ke belakang dan mampu bershodaqoh jutaan rupiah untuk fasilitas umum.

Sebagai orang yang tumbuh dengan fisik sempurna dan pendidikan yang mumpuni, saya sampai malu hati kepada beliau. Meski memiliki keterbatasan secara fisik,  beliau mampu melakukan semua kebaikan tanpa batas, tidak mengeluh dengan keadaan dan pekerja keras. Beliau adalah orang yang bermanfaat dari ilmunya, hartanya, tenaganya dan bahkan do’anya untuk kebaikan lingkungan disetiap sujud di sepertiga malam.

Mengapa saya begitu mengenal dan bisa menggambarkan kehidupan beliau? Bapak Bunyamin adalah ayah mertua saya, sosok pahlawan dan inspirasi bagi saya. Saat pulang kampung, saya selalu terbangun mendengar lantunan ayat suci Alquran dari lisan beliau di sepertiga malam hingga menjelang subuh. Terdengar lantang namun syahdu dengan irama bacaan yang fasih.

Raut wajahnya tak sesegar saat pertama kali bertemu 10 tahun lalu. Rambut, alis dan janggutnya sudah memutih, tetapi beliau tetap bersemangat memikul cangkul di bahunya untuk berangkat ke sawah saat hari masih gelap. Seringkali anak-anaknya meminta beliau untuk berhenti menjadi buruh tani. Selalu saja beliau menjawab bahwa dirinya merasa bosan jika tak beraktivitas.

Satu hal yang menyentuh hati, beliau pernah berkata, “Dulu saya bekerja untuk menafkahi anak istri. Sekarang kalian semua sudah mandiri. Saya ingin menabung untuk akhirat saya dengan tenaga saya. Saya ingin berbagi rezeki dan bershadaqoh sesuai keinginan saya. Anak-anak bisa saja menghidupi saya, tapi kalau saya ingin bersodhaqoh, rasanya tidak pantas jika harus minta sama anak.”

Sedih, terharu dan berintropeksi, begitulah saya saat menuliskan cerita ini. Cerita tentang sosok pahlawan yang sangat amat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan beliau membuat saya termotivasi untuk melakukan kebaikan dan menebar manfaat. Bertepatan dengan kontes yang diadakan Aplikasi Super, rasanya kisah ini sangat cocok dan menginspirasi jika dibagikan dalam  Kontes Blog Super Bercerita dengan tema #KadoUntukPahlawan.

Sama halnya dengan Bapak Bunyamin yang ingin selalu berbagi kebaikan, harapannya kisah ini  juga dapat dibaca khalayak umum dan bermanfaat untuk banyak orang. Kamu juga bisa bergabung dalam Kontes Blog Super Bercerita #KadoUntukPahlawan yang diadakan pada periode 4 April – 5 Juni 2022 dan turut serta membagikan kisah inspiratif sosok pahlawan di lingkunganmu.

Nah, untuk teman-teman blogger yang berminat, silakan baca informasi lengkap mengenai syarat dan ketentuan Kontes Blog Super Bercerita #KadoUntukPahlawan dengan klik di sini. Tim Aplikasi Super sudah menyiapkan hadiah menarik untuk teman-teman penulis yang beruntung dan kado untuk pahlawan yang ada dalam cerita.