Beberapa tingkah laku anak terkadang menguras kesabaran. Bagaimana cara atasi anak nakal, susah diatur dan sering rewel?

Setiap anak memiliki karakter dan keunikam masing-masing. Faktanya, karakter anak dibentuk melalui lingkungan sekitarnya. Dan yang paling berpengaruh adalah orang tua atau yang tinggal satu atap. Saat anak terlihat rewel, nakal atau bahkan susah diatur, pastilah ada penyebabnya.

Penyebab Anak Nakal, Susah Diatur Dan Sering Rewel

Semenjak bayi, perilaku yang ditunjukkan anak selalu ada sebabnya. Contoh sederhana, saat bayi lapar, pipis dan merasa tak nyaman, ia akan menangis. Tangisan adalah cara bayi untuk menyampaikan bahwa ada sesuatu yang ia butuhkan. Begitu juga dengan anak, saat ia menunjukkan hal-hal yang tidak seharusnya, pastilah ada penyebabnya.

Yang perlu diperhatikan, sebelum mencari cara atasi anak nakal, susah diatur, dan sering rewel, lebih baik cari tahu dulu penyebabnya. Jika orang tua sudah tahu penyebabnya maka akan lebih mudah mengatasinya.

Selain itu, perlu kita telaah juga mengenai anak nakal, susah diatur dan rewel. “Anak nakal dan susah diatur” adalah sebuah label. Nakal atau tidaknya seorang anak tergantung bagaimana kita memandangnya.

Terkadang anak terkesan nakal karena melakukan sesuatu yang dianggap kesalahan,tapi sudahkah kita menanyakan pada anak mengapa melakukan hal itu? Sedangkan susah diatur adalah masa dimana anak ingin melakukan apa yang ia inginkan.

Anak susah diatur biasanya karena rasa ingin tahu dan jiwa eksplorasinya yang kuat. Cukup jelaskan alasan dibalik sebuah larangan agar anak dapat mengerti dan menuruti permintaan. Sedangkan anak sering rewel biasanya karena ada kebutuhan maupun keinginannya yang belum terpenuhi.

Pada usia tertentu, anak masih belum mampu mengekspresikan perasaan dan keinginannya dengan baik, sehingga anak mengekspresikannya dengan tingkah laku tertentu.

Cara Atasi Anak Nakal, Susah Diatur Dan Sering Rewel

Saat anak menunjukkan ekspresi maupun tingkah laku yang  membuat orang di sekitarnya tidak nyaman, seperti nakal, susah diatur maupun rewel, secara tidak langsung anak menyampaikan pesan bahwa ia membutuhkan sesuatu. Menurut Abraham Maslow, ada lima kebutuhan dasar manusia, yaitu:

  1. Kebutuhan fisiologis
  2. Kebutuhan akan rasa aman
  3. Kebutuhan rasa memiliki dan kasih sayang
  4. Kebutuhan penghargaan
  5. Kebutuhan aktualisasi diri

Saat semua kebutuhan itu terpenuhi, insyaAllah anak akan lebih tenang dan mudah menerima arahan dari orang tua. Ikatan dan rasa sayang yang kuat diantara anak dan orang tua juga akan membuat saling mengerti satu sama lain. Bagaimana cara mengungkapkan kasih sayang?

Menurut Gary Chapman, Ph.D., konselor pernikahan dan penulis buku The 5 Love Languages ada lima cara untuk mengungkapkan rasa sayang dan cinta: sentuhan fisik, hadiah, kata-kata, tindakan, dan waktu yang berkualitas. Semua itu juga disebut bahasa cinta dan diibaratkan sebuah baterai yang harus diisi setiap hari. Dengan begitu, hubungan antara anak dan orang tua lebih harmonis dan bisa saling mengerti.

Sentuhan Fisik

Berikan sentuhan fisik pada anak, bisa berupa pelukan, mengusap kepala atau mencium. Baterai kasih sayang anak akan terisi, jika orang tua melakukan hal ini. Namun, jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, biasanya anak akan cenderung bersikap yang terkadang dianggap nakal, seperti memukul, menggigit, atau mencubit.

Jika anak mulai memukul, menggigit, mencubit atau melakukan hal lain yang menyakiti, sampaikan bahwa apa yang ia lakukan tidak baik. Agar anak lebih tenang, orang tua juga harus bisa menenangkan anak tanpa terpancing emosi. Sampaikan nasihat sambil memeluk atau mengusap rambut anak, agar anak dan orang tua lebih tenang dan dapat berkomunikasi dengan baik.

Kata-kata Positif

Kata-kata yang penuh kasih sayang dari orang tua sangat berarti bagi anak. Ia akan merasa lebih dihargai dan mendapat semangat untuk melakukan lebih baik lagi saat mendapat kalimat positif dari orang tua. Contoh kalimat-kalimat positif seperti, “Mama sayang kamu dan mama yakin kamu akan selalu menjadi anak baik ” atau “Terima kasih, sudah merapikan bekas makananmu. Kamu memang anak yang bertanggung jawab.”

Tanpa kita sadari, kata-kata positif akan membentuk kepribadian yang positif juga. Begitu juga sebaliknya, jika orang tua terlalu mudah memberi label dan kata-kata negatif maka hal itu akan terjadi pada anak. Saat orang tua mengatakan,” Kamu males banget sih, habis makan bukannya beresin malah langsung ditinggal aja.” Coba kita bayangkan, kalimat mana yang lebih enak didengar jika dibandingkan dengan kalimat positif di atas?

Waktu bersama dan pelayanan

Agar anak merasa orang tua selalu ada untuknya dan menyayanginya, orang tua dapat menemani anak saat ia melakukan sesuatu. Memberikan semangat untuk anak agar ia cepat menyelesaikan pekerjaannya. Jika anak butuh bantuan, maka bantulah ia. Anak yang jarang ditemani orang tuanya akan cenderung menjadi anak yang penyendiri.

Waktu yang Berkualitas

Selalu sediakan waktu yang berkualitas di mana orang tua benar-benar memberikan perhatian penuh pada anak. Biarkan si kecil memilih aktivitas apa yang ingin dilakukan saat bersama  orang tuanya. Bisa dengan bermain bersama, berbagi cerita, membuat camilan bersama, membaca buku atau kegiatan-kegiatan lainnya yang menyenangkan. Saat anak memiliki waktu yang cukup bersama orang tua, emosinya akan lebih stabil dan mudah diarahkan.

Baca Juga : Ide Kegiatan Main Bersama Anak Di Rumah

Hadiah

Sesekali, berilah si kecil hadiah sebagai ungkapan kasih sayang. Tak perlu selalu membeli untuk melakukannya. Orang tua  bisa melakukan hal sederhana namun berkesan. Misalnya memasakkan makanan kesukaan anak, membuat kartu ucapan, membuat hasil karya dan lain-lain. Akan tetapi jangan

Saat baterai kasih sayang anak terpenuhi, maka ia akan terhindar dari perilaku negatif. Kesimpulannya adalah, bahwa dengan mengisi baterai kasih sayang anak dapat menjadi cara mengatasi anak nakal, susah diatur ataupun rewel.

Selain mengisi baterai kasih sayang, orang tua juga perlu memahami teknik komunikasi yang tepat agar anak dapat lebih mendengarkan nasihat orang tua. Selain itu, orang tua juga perlu belajar parenting agar dapat memahami penyebab perilaku anak sehingga tidak mudah memberi label negatif.