Calistung sering menjadi perbincangan di kalangan orang tua dan tenaga pendidik.   Sebagian orang menentang, sebagian lainnya ada yang mendukung karena merupakan tuntutan kebutuhan belajar. Lalu, apakah Calistung perlu diajarkan sejak dini?

Apa Itu Calistung?

Berbicara tentang Calistung, tentu kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu calistung. Calistung adalah kepanjangan dari Baca, Tulis, Hitung. Sebagian sekolah mulai mengenalkan sejak TK (Taman Kanak-Kanak). Ada juga orang tua yang mengenalkannya sebelum itu. Meski begitu, apakah hal yang demikian merupakan langkah yang tepat? Apa kaitan Calistung dengan anak usia dini?

Pengertian Anak Usia Dini

Anak usia dini dikategorikan usia 1 sampai 6 tahun. Anak pada usia ini, disebut juga “Masa Keemasan”. Anak usia dini akan menyerap apapun yang dilihat dan didengar. Karena begitu cerdasnya daya tangkap anak usia dini, sebagian orang tua menjadikannya kesempatan.

Tak jarang orang yang beranggapan, semakin cepat belajar semakin baik. Termasuk Calistung (Baca, Tulis, Hitung) yang disebut-sebut sebagai modal masuk Sekolah Dasar. Agar tidak keteteran menjelang masuk SD, belajar Calistung dimulai saat usia TK.

Anak usia dini atau usia TK  masih masa bermain. Mereka ada dalam tahapan tumbuh kembang. Aspek perkembangan anak usia dini meliputi bahasa, motorik, auditori, visual, keterampilan berpikir dan sosial emosional.

Seiring pertumbuhan anak, segala aspek perkembangannya perlu diperhatikan. Stimulasi diperlukan untuk setiap aspek perkembangan anak. Anak yang perkembangannya optimal dalam segala aspek akan mudah mempelajari berbagai hal.

Sejatinya anak manusia adalah pembelajar. Maka persiapkan anak untuk menjadi seorang pembelajar. Pembelajar yang senang akan belajar, bukan terpaksa harus belajar. Setiap bagian dari aktivitas anak usia dini adalah pembelajaran.

Ide Kegiatan Mengenalkan Calistung Pada Anak Usia Dini

Jika ingin mengajarkan Calistung, pastikan aspek perkembangan dasar anak sudah terpenuhi. Motorik kasar dan motorik halus anak harus sudah berkembang dengan baik. Kemampuan bahasa anak juga harus sesuai saat akan dikenalkan Calistung.

Jika perkembangan setiap aspek sudah sesuai tahapan usia, Calistung bisa dikenalkan. Ingat ya, dikenalkan. Bukan dipaksakan apalagi ditargetkan. Agar pengenalan calistung tidak membosankan, lakukan sambil bermain.

Belajar dan bermain tidak selalu menjadi dua hal yang berbeda. Didalam permainan bisa ada pembelajaran, begitupun sebaliknya. Agar keduanya terintegrasi, buatlah kegiatan bermain dengan menyisipkan Calistung. Berikut ide bermain sambil mengenalkan Calistung (Baca, Tulis dan Berhitung):

1. Mengenalkan membaca

• Untuk mengenalkan membaca pada anak, perlu stimulasi yang tepat. Langkah paling awal  adalah biasakan anak bermain dengan buku. Seringlah bacakan buku untuk anak, maka ketertarikan dan minat baca akan perlahan timbul. Pilih buku yang sesuai karakter anak usia dini, berwarna dan bergambar.

• Ajaklah anak untuk menganalisa bunyi huruf dari suatu kata. Seperti A untuk apel, I untuk Ikan, U  untuk ubi, dan seterusnya. Bisa juga dengan menggunakan lagu.

• Menyusun huruf untuk membentuk suatu kata. Sediakan alphabet dan flashcard, minta anak menyusun huruf sesuai kata yang tertulis.

• Bermain mencocokkan kata agar anak terbiasa dengan simbol huruf. Sediakan gambar dengan tulisan  dibawahnya. Di sisi lain, sediakan tulisan tanpa gambar. Minta anak menemukan kata yang sesuai dengan tulisan bergambar.

• Bermain menggabungkan suku kata untuk membentuk suatu kata. Contoh: menggabungkan suku kata “ba” dengan “ju”, “bi”, “tu” dan lain-lain.

2. Mengenalkan menulis

• Menulis di atas pasir dengan jari

• Bermain coretan dengan kapur

• Sediakan alat tulis dan kertas di tempat yang mudah dijangkau. Saat minat menulis muncul, biasanya anak akan senang menggambar. Meskipun gambar ataupun bentuk coretan sesuai imajinasi anak, tetap beri apresiasi.

Hargai setiap proses yang dilalui anak. Apapun bentuk dan hasil coretannya, jangan paksa ia untuk langsung meniru huruf dengan tepat. Agar tahapan menulis berkembang dengan baik, berikan stimulasi yang cukup untuk motorik halusnya.

Baca juga: 9 Kegiatan Yang Bermanfaat Untuk Menstimulasi Motorik Halus Si Kecil

• Saat bermain mencocokkan kata, ajak anak untuk menulis huruf-huruf yang ada. Sebutkan dengan jelas kata yang tertulis. Contoh: apel. Pembimbing menyebutkan huruf a dan meminta anak untuk menulisnya. Menyebutkan huruf p dan meminta anak untuk menulisnya. Begitu seterusnya untuk huruf e dan l.

3. Mengenalkan berhitung

•  Kenalkan simbol dan benda secara bersamaan. Saat ingin mengenalkan angka 3 maka sediakan tiga benda.

• Berikan instruksi sederhana pada anak menggunakan jumlah. Contoh: “Sayang, tolong ambilkan 3 lego ya.”

• Saat ingin mengenalkan penambahan, pengurangan dan yang lainnya, gunakan contoh real agar anak mudah memahami. Bisa juga gunakan metode cerita. Contoh: “Nisa, mamah punya 2 jeruk, ayah juga punya 2. Kami mau memberikan jeruknya ke Nisa. Sekarang berapa jeruk yang Nisa punya?”

Seorang Psikolog, Ibu Elly Risman pernah berkata, bahwa pintar ada waktunya. Pada anak usia dini, Calistung hanya pengenalan. Jadi, saat anak belum siap, maka tidak perlu dipaksakan. Yang perlu dilakukan, bantu anak mempersiapkan diri. Bangun mindset pada anak bahwa belajar adalah hal yang menyenangkan.

Dalam keaadaan senang, anak dapat mencerna apapun dengan baik. Beri selalu anak kata-kata positif agar ia termotivasi. Hindari menuntut memarahi dan melabel anak dengan kata-kata negatif.

7 Teknik Komunikasi Dengan Anak Usia Dini Agar Jadi Penurut

Jika ditanya, apakah Calistung diperlukan untuk anak usia dini?  Jawabannya bisa saja pro dan kontra. Pemerintah memang tidak menyarankan Calistung untuk anak usia dini. Di sisi lain, anak akan sedikit kesulitan di Sekolah Dasar jika belum bisa membaca. Mengingat materi pelajaran pun banyak yang membutuhkan kemampuan membaca.

Perlu atau tidak belajar calistung, bisa dilihat dari kesiapan anak. Yang terpenting cara mengajarkan Calistung itu sendiri. Gunakan cara yang menyenangkan sehingga anak terbebani.?